JAKARTA, MEDIA PURNAWIRAWAN — Memasuki era disrupsi teknologi gelombang ketiga, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bekerja sama dengan Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja secara resmi meluncurkan inisiatif "Prakerja Tech 2026".

Program berskala nasional ini memiliki target ambisius: mencetak 10 juta talenta digital baru bersertifikasi internasional pada akhir tahun 2026. Fokus utama pelatihan bergeser dari keterampilan dasar menuju keterampilan tingkat lanjut (*advanced skills*).

Fokus pada AI, Cloud, dan Cybersecurity

Menteri Kominfo menyatakan bahwa kurikulum tahun ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan industri global. Bidang seperti Artificial Intelligence (AI) Prompt Engineering, arsitektur Cloud Computing, dan Keamanan Siber (*Cybersecurity*) mendominasi silabus pelatihan.

"Kita tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi. Bonus demografi kita harus diisi oleh talenta-talenta yang mampu membangun sistem AI dan menjaga kedaulatan data nasional kita."

Untuk mewujudkan standar global tersebut, pemerintah telah menggandeng raksasa teknologi dunia seperti Google, Microsoft, AWS, dan Cisco sebagai mitra penyedia materi serta sertifikasi. Peserta yang lulus dengan nilai terbaik juga akan difasilitasi untuk *job matching* langsung dengan berbagai perusahaan rintisan (*startup*) dan BUMN.

Bantuan Kuota dan Perangkat untuk Peserta Terpilih

Bagi peserta dari kalangan prasejahtera dan daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), pemerintah mengalokasikan anggaran khusus sebesar Rp 1,5 Triliun. Dana ini tidak hanya dialokasikan untuk biaya pelatihan, tetapi juga subsidi akses internet berkecepatan tinggi berbasis satelit rendah (*Low Earth Orbit*) dan peminjaman perangkat laptop selama masa pelatihan.

Pendaftaran gelombang pertama "Prakerja Tech 2026" akan mulai dibuka pada awal Agustus mendatang melalui portal resmi Prakerja dengan sistem seleksi berbasis portofolio dan *aptitude test*.